(Jenis Berita: Prihatin)
Berdasarkan laporan yang dikeluarkan oleh Committee Against Sexual Abuse (CASA) Bali, sebuah LSM peduli paedofilia dan kekerasan seksual, terdapat 10 pelaku paedofilia di Bali berhasil diidentifikasi.
Bisnis pariwisata di Bali yang cukup sukses ternyata di sisi lain menimbulkan dampak negatif . Anak-anak miskin di Bali berharap menjadi orang kaya seperti turis asing yang sering dilihatnya ketika berkunjung ke daerah mereka. tanpa mereka sadari, iming-iming makanan enak, jalan-jalan, ataupun mendapat pakaian bagus seringkali menjebak anak-anak menjadi korban paedofil.
Berdasarkan Media Indonesia yang memperoleh informasi dari penduduk asli setempat, seringkali pria asing berusia 60 tahun ke atas membawa anak-anak lelaki 9 tahun hingga 12 tahun jalan-jalan ke mal, kemudian diajak menginap di hotel.
Biasanya sasaran paedofil adalah anak-anak Bali yang hidup di kantong-kantong kemiskinan seperti di Kabupaten Karang Asem dan Kabupaten Buleleng.Para korban diperlakukan seperti anak sendiri, namun merek tidak tahu bahwa pelaku sebetulnya bertujuan menyalurkan hasrat seksualnya.
Sayangnya, walaupn CASA Bali yakin korban dari kalangan anak-anak cukup banyak, namun banyak korban yang tidak melapor karena malu.
Sekretaris CASA Bali Cokorda Bagus Jaya Lasmana mengatakan untuk mengurangi kasus paedofilia, masyarakat harus ikut peduli dengan melaporkannya ke polisi.
Tindakan pencegahan selalu lebih baik, oleh karena itu sebaiknya kepada anak-anak diberi pendidikan/penyuluhan agar senantiasa waspada, sebelum masa depan anak-anak dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
(Sumber: Media Indonesia, 7 September)
Kamis, 11 September 2008
Langganan:
Postingan (Atom)
